Powered By Blogger

Jumat, 26 Juni 2015

Makalah Metode Inkuiri

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Sains Kelas Tinggi
METODE INKUIRI
MAKALAH
Dosen pengampu:
Sigit Prabowo.,S.Pd.,M.Pd
 
Disisun oleh :

1.              AHMAD ROHMANUDIN         (13141172)
2.              EKA NURJANAH                          (13141166)
3.              EVILLIA ANGGRAINI                (13141178)
4.              SUKMA YUNITA P                      (13141179)
5.              SETO YULIANTO                         (13114183)

KELAS 4E

PROGRAM  STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Pembelajaran Sains Kelas Tinggi yaitu “Metode Inkuiri”.   
Selama penulisan tugas ini banyak pihak yang telah membantu penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penulisan tugas ini sampai dengan selesai. Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu kami, terutama kepada:
1.      Allah SWT
2.      Siit Prabowo.,S.Pd.,M.Pd selaku dosen mata kuliah Pembelajaran Sains Kelas Tinggi.
3.      Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu menyelesaikan tugas ini
Saran dan kritik dari semua pihak selalu kami tunggu demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Kami berharap semoga hasil makalah ini dapat diterima dan memberi manfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya. Besar harapan kami semoga hasil tugas ini menjadikan amal sholeh dan menambah khasanah ilmu pengetahuan kita, Amin.

Madiun,    April 2015
    Penyusun
 
DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................................................. i
Kata Pengantar  ............................................................................................. ii
Daftar Isi ...................................................................................................... iii
BAB     I    PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang............................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah........................................................................ 2
C.     Tujuan.......................................................................................... 3
D.    Manfaat Penulisan....................................................................... 3
BAB  II   PEMBAHASAN
A.       Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri ..................................... 4
B.       Teori-Teori Dasar Yang Melandasi Model Inkuiri...................... 4
C.       Prinsip-Prinsip dalam Model Pembelajaran Inkuiri .................... 7
D.       Langkah-langkah Model Pembelajaran Inkuiri ........................... 8
E.        Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri .......... 10
F.        Macam-Macam Model Pembelajaran Inkuiri ............................ 11
G.       Karakteristik Model Pembelajaran Inkuiri ................................ 12
H.       Keefektifan dan Kesulitan Model Pembelajaran Inkuiri .......... 12
I.          Penerapan Model Inkuiri dalam Pembelajaran IPA di SD........ 13
BAB III   PENUTUP
A.       Simpulan.................................................................................... 15
B.       Saran.......................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 16

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pada saat proses belajar–mengajar maka akan terjadi hubungan timbal balik antara guru dan siswa yang beraneka ragam, dan itu akan mengakibatkan terbatasnya waktu guru untuk mengontrol bagaimana pengaruh tingkah lakunya terhadap motivasi belajar siswa. Selama pelajaran berlangsung guru sulit menentukan tingkah laku mana yang berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa, misalnya gaya mengajar mana yang memberi kesan positif pada diri siswa selama ini, strategi mana yang dapat membantu kejelasan konsep selama ini, media dan metode mana yang tepat untuk dipakai dalam menyajikan suatu bahan sehingga dapat membantu mengaktifkan siswa dalam belajar.
Profesionalisme seorang guru bukanlah hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi lebih kepada kemampuanya melaksanakan pembelajaran yang menarik untuk siswa sehingga siswa lebih aktif mengikuti pembelajaran. Daya tarik suatu pelajaran terletak pada dua hal yaitu oleh mata pelajaran itu sendiri dan cara guru mengajar.
Cara guru mengajar menjadi salah satu penentu keberhasilan proses belajar mengajar. Salah satu caranya adalah dengan penerapan model pembelajaran. Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran. Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.
Dalam proses pembelajaran yang menggunakan model inkuiri, guru sebagai “fasilitator pembelajaran”. Siswa mengajukan beberapa pertanyaan, menimbulkan hipotesis, penelitian dan percobaan, menganalisis data, dan memberikan penjelasan sebagai bukti.
Inquiry dibentuk dan meliputi discovery dan lebih banyak lagi. Dengan kata lain, inquiry adalah suatu perluasan proses-proses discovery yang digunakan dalam cara lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses-proses discovery, inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi

tingkatannya, misalnya merumuskan problema sendiri, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.
Johnson dalam supriyono (2011:68) membedakan discovery learning dengan inquiry learning. Discovery terdapat pengalaman yang disebut “ahaa experience” yang dapat diartikan nah ini dia. Inquiry learning tidak selalu sampai pada proses ini. Hal ini karena karena proses akhir discovery learning adalah penemuan, sedangkan inquiry learning proses akhirnya terletak pada kepuasan kegiatan meneliti. Discovery learning menekankan pada pengalaman seperti yang dialami oleh peneliti ketika melakukan penemuan suatu temuan. Inquiry berarti guru harus menyediakan situasi sedemikian rupa sehingga siswa didorong untuk melakukan prosedur yang digunakan oleh penelitian. Persamaan discovery learning dan inquiry learning yaitu kedua pembelajaran tersebut menekankan pada masalah konstektual dan aktivitas penyelidikan.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas terdapat berbagai permasalahan yang dapat kami angkat dalam makalah ini, adapun masalah-masalah tersebut yaitu sebagai berikut.
1.     Apakah pengertian model pembelajaran inkuiri?
2.     Sebutkan teori-teori yang melandasi model pembelajaran inkuiri ?
3.     Apa sajakah prinsip-prinsip dalam model pembelajaran inkuiri ?
4.     Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran inkuiri?
5.     Apakah kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran inkuiri ?
6.     Sebutkan macam-macam model pembelajaran inkuiri ?
7.     Apakah karakteristik dalam model pembelajaran inkuiri ?
8.     Sebutkan keefektifan dan kesulitan dalam model pembelajaran inkuiri ?
9.     Bagaimanakah cara penerapan model inkuiri dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD ?
C.      Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai penulis dari rumusan masalah tersebut yaitu sebagai berikut:
1.   Memahami pengertian model pembelajaran inkuiri.
2.   Mengetahui  teori-teori yang melandasi model pembelajaran inkuiri.
3.   Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip dalam model pembelajaran inkuiri.
4.    Mengetahui langkah-langkah model pembelajaran inkuiri.
5.   Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran inkuiri.
6.   Mendeskripsikan macam-macam model pembelajaran inkuiri.
7.   Mengetahui karakteristik dalam model pembelajaran inkuiri.
8.   Mengetahui dan mendeskripsikan keefektifan dan kesulitan dalam model pembelajaran inkuiri.
9.   Mengetahui dan memahami cara penerapan model inkuiri dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD . 
D.  Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu:
1.        Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan mahasiswa calon guru SD.
2.        Dapat menunjang bahan mata kuliah Pembelajaran Sains Kelas Tinggi.
3.        Dapat memberikan pengetahuan bagi pendidik khususnya untuk guru SD tentang model pembelajaran inkuiri.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri
Kata inkuiri berasal dari bahasa inggris “Inquiry” berarti pertanyaan,  pemeriksaan, atau penyelidikan.
Model pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006).
Menurut piaget bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain (mulyasa, 2008). 
Dengan melihat kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inquiry adalah model  pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.  
B.  Teori-Teori Dasar Yang Melandasi Model Inkuiri
Adapun teori-teori belajar yang mendasari proses pembelajaran dengan model inkuiri antara lain:
1.        Teori belajar kontruktivisme
Menurut pandangan teori ini siswa mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi dengan objek, fenomena, data-data, fakta-fakta, pengalaman dan lingkungannya.
Pengetahuan yang dikontruksi dianggap benar, bila pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Kontruktivisme juga beranggapan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari sesorang kepada orang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing individu. Artinya, pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah jadi, melainkan proses yang berkembang terus menerus.
Salah satu tokoh kontruktivisme yaitu Pieget berpendapat bahwa: ‘pengetahuan yang dibuat dalam pikiran anak, selama anak tersebut terlibat dalam proses pembelajaran merupakan akibat dari interaksi secara aktif dengan lingkunganya melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses kognitif untuk menyerap setiap informasi baru kedalam pikirannya seperti: presepsi, konsep, dan sebagainya. Selanjutnya akomodasi masalah suatu proses restrukrisasi informasi yang sudah ada atau kemampuan menyusun kembali struktur pikirannya karena pengaruh informasi yang baru saja diterima.
Selain piaget, ahli konstruktivisme Vygostsky berpendapat bahwa “perkembangan intelektual seorang anak yang sedang mengalami proses pembelajaran juga oleh faktor sosialnya”. Maksudnya, perkembangan anak secara kognitif dipengaruhi oleh lingkungan sosial dimana anak itu berada.
Jadi, belajar dianggap sebagai proses untuk mengkonstruksi pengetahuan yang dilakukan oleh siswa secara mandiri. Karena siswa diarahkan untuk menjawab materi sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya saat itu. Disamping itu, dalam konstruktivisme proses belajar dipengaruhi oleh faktor pengalaman dan lingkungan yang mendukung dalam memecahkan masalah, melakukan penyelidikan, dan menarik suatu kesimpulan. Hal ini sejalan dengan rancangan materi yang disesuaikan dengan masalah yang baisa dialami dilingkungan sehari-hari. Dengan demikian teori
2.        Teori belajar ausubel
Belajar menurut Ausubel (Dahar,1996:111) ada dua jenis, yaitu 1) belajar bermakna (meaningful learning), dan 2) belajar menghafal (rate learning).
Belajar bermakna merupakan suatu proses dimana setiap informasi atau pengetahuan baru dihubungkan dengan struktur pengertian atau pemahaman yang sudah dimilikinya oleh siswa sebelumnya. Belajar bermakna terjadi bila siswa mampu menghubungkan setiap informasi baru kedalam struktur pengetahuan mereka. Hal ini terjadi melalui pemahaman siswa terhadap sebuah konsep, mampu mengubah konsep melalui proses asimilasi dan akomodasi konsep. Sehingga menyebabkan peningkatan kemampuan untuk memecahkan masalah. Untuk itu dapat dikatakan teori belajar bermakna dari Ausubel sesuai dengan model pembelajaran inkuiri. Karena siswa mengidentifikasi masalah dan menyelesaikan materi secara mandiri tanpa dibimbing oleh guru.
3.        Teori belajar penemuan dari Bruner
Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner (1996) yang dikenal dengan nama belajar penemuan. Bruner menganggap, bahwa “belajar penemuan sesuai dengan pencarian secara aktif oleh manusia”. Menurut Bruner, siswa disarankan berusaha sendiri untuk memecahkan masalah yang berinteraksi dengan lingkungan, agar mereka memperoleh pengalaman, melakukan eksperimen dan menemukan konsep itu sendiri.
Catatan dalam bukunya “The act Discovery” (1961), Bruner (Dahar,1996:92) mengemukakan beberapa kebaikan dari belajar penemuan yaitu: • Meningkatkan potensi intelektual • Mengalihkan ketergantungan dari hadiah eksentrik ke hadiah intrinsik • Menguasai heuristika penemuan • Meningkatkan daya ingat Berdasarkan pendapat yang diungkapkan Bruner, model inkuiri mempunyai kesesuaian dengan teori belajar penemuan. Karena siswa diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan pada lembar kerja sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan sendiri. Setelah itu siswa berdiskusi dan dapat menarik kesimpulan sendiri mengenai materi yang diberikan.
C.  Prinsip-Prinsip dalam Model Pembelajaran Inkuiri
Adapun prinsip strategi pembelajaran inkuiri yaitu:
1.        Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Tujan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Oleh karena itu, keberhaasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pembelajaran, akan tetapi sejauh mana beraktifitas mencari dan menemukan sesuatu.
2.      Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi, artinya menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
3.      Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Dengan demikian, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.
4.      Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir, yaitu proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung menggunakan otak kiri dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan.
5.      Prinsip Keterbukaan
Belajar merupakan suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan. 
D.  Langkah-langkah Model Pembelajaran Inkuiri 
Secara umum, langkah-langkah model pembelajaran inkuiri sebagai berikut :
1.         Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan startegi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar.
2.         Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3.         Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
4.         Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5.         Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6.         Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan. 
E.  Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri
1.        Kelebihan
a)         Model pembelajaran inquiry dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
b)        Model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
c)         Model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang,  sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
d)        Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
2.      Kekurangan
a)         Jika model pembelajaran inquiry digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b)        Model ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena itu terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c)         Kadang-kadang dalam mengimplementasikanya memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d)        Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiry akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
F.   Macam-Macam Model Pembelajaran Inkuiri
1)        Inkuiri Induksi
Inkuiri induktif adalah model inkuiri yang penetapan masalahnya ditentukan sendiri oleh siswa sesuai dengan bahan/materi ajar yang akan dipelajari.
2)      Inkuiri Deduksi
Inkuiri deduktif adalah model inkuiri yang permasalahannya berasal dari guru. Siswa dalam inkuiri deduktif diminta untuk menentukan teori/konsep yang digunakan dalam proses pemecahan masalah.
G. Karakteristik atau Ciri-ciri Model Pembelajaran Inkuiri
Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik  atau ciri-ciri utama pembelajaran inquiry adalah sebagai berikut:
1)        Pembelajaran inquiry menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pembelajaran inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
2)        Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang dipertanyakan sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self believe).
3)        Membuka intelegensi siswa dan mengembangkan daya kreativitas siswa.
4)        Memberikan kebebasan pada siswa untuk berinisiatif dan bertindak.
5)        Mendorong siswa untuk berfikir intensif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
6)        Proses interaksi belajar mengajar mengarahkan pada perubahan dari teacher centered kepada student centered.

H.  Keefektifan dan Kesulitan Model Pembelajaran Inkuiri
1.    Keefektifan Model Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran Inkuri efektif apabila :
a)        Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
b)        Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
c)        Jika proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
d)       Jika akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemampuan dan kemampuan berpikir.
e)        Jika siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
f)         Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
2.    Kesulitan dalam Model Pembelajaran Inkuiri
Sebagai suatu strategi yang baru, dalam penerapannya Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) terdapat beberapa kesulitan diantaranya :
a)        SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang berstandarkan dua sayap yang sama penting, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru sudah terbiasa dengan pola pembelajaran konvensional yang lebih menekankan pada penyampaian informasi sehingga sulit untuk mengubahnya.
b)        Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru sehingga bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama. Dengan demikian sulit untuk mengubah cara belajar mereka sebagai proses berpikir. Akibatnya mereka akan mengalami kesulitan manakala diajak memecahkan suatu persoalan, disuruh bertanya dan menjawab pertanyaan.
c)        Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Sistem pendidikan menganjurkan agar proses pembelajaran lebih mengarahkan pada cara belajar siswa aktif, tetapi sistem evaluasi masih berorientasi pada pengembangan aspek kognitif saja. Dengan demikian guru sebagai pelaksana di lapangan mengalami kebingungan.

I.     Penerapan Model Inkuiri dalam Pembelajaran IPA di SD
Pendekatan inkuri adalah suatu pendekatan yang menggunakan cara bagaimana atau jalan apa yang harus ditempuh oleh siswa dengan bimbingan guru sampai pada penemuan-penemuan.
Piaget dalam Sliman (2007:4) menjelaskan tentang pendekatan inkuiri sebagai pembelajaran ialah pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri, dalam arti luas ingin melihat  apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol  mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan satu dengan yang lain, membandingkan apa yang mereka temukan dengan yang orang lain temukan. Menurut (Jorolimek dalam Najimudin),inkuiri merupakan pendekatan siswa.
Melalui pendekatan inkuiri guru akan membantu mengembangkan keterampilan dan sikap percaya diri dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jika model ini sering digunakan secara teratur berarti berguna untuk membelajarkan siswa dalam  menemukan masalahnya sendiri dan sekaligus memecahkannya.
Pendekatan inkuiri merupakan proses pembelajaran yang menekankan pada pengembangan kemampuan siswa untuk memecahkan satu masalah yang dibatasi oleh satu disiplin ilmu.   
Dalam menanamkan konsep, misalnya konsep gerak di kelas III SD, pembelajaran ini akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk melakukan dan ikut terlibat secara aktif dalam menemukan konsep gerak benda yang dibimbing guru.

BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
1.      Model pembelajaran inquiry adalah model  pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
2.      Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri. Namun dalam penerapannya, pembelajaran inkuiri ini memiliki kelemahan seperti adanya kesulitan dalam mengontrol siswa, ketidaksesuaian kebiasaan siswa dalam belajar, kadang memerlukan waktu yang panjang dalam pengimplementasiannya, dan sulitnya dalam implementasi yang dilakukan oleh guru bila keberhasilan belajar bergantung pada siswa.
3.      Teori-teori yang melandasi model pembelajaran inquiri yaitu teori belajar kontruktivisme, teori belajar Ausubel, teori belajar penemuan oleh Gagne.
4.      Langkah-langkah pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan kesimpulan.
5.      Model pembelajaran inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema sendiri, merancang eksperimen sendiri, melakukan eksperimen sendiri, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.
                                                        DAFTAR PUSTAKA 
Bahri Syaiful, dkk, 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pt Rineka Cipta.

Hamzah, B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Kunandar. 2007. Guru Professional Implementasi Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta:  Raja Grafindo.

Mulyasa. 2008. Menjadi guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. Bandung:  Remaja Rosda Karya.

Muslich Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dan Kontekstual. Jakarta:  Bumi Aksara.

Sanjaya Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Perdana Media Group.

Suprijono, A. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: PT Bumi Aksara.