Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran
Sains Kelas Tinggi
METODE
INKUIRI
MAKALAH
Dosen pengampu:
Sigit Prabowo.,S.Pd.,M.Pd
Disisun oleh :
1.
AHMAD
ROHMANUDIN (13141172)
2.
EKA
NURJANAH (13141166)
3.
EVILLIA
ANGGRAINI (13141178)
4.
SUKMA
YUNITA P (13141179)
5.
SETO
YULIANTO (13114183)
KELAS 4E
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Pembelajaran Sains Kelas Tinggi yaitu “Metode Inkuiri”.
Selama penulisan tugas ini banyak pihak yang telah
membantu penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penulisan tugas ini sampai
dengan selesai. Oleh
karena itu, kami
menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah
membantu kami,
terutama kepada:
1.
Allah SWT
2. Siit Prabowo.,S.Pd.,M.Pd selaku dosen mata kuliah Pembelajaran Sains Kelas Tinggi.
3.
Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan
satu persatu yang telah membantu menyelesaikan tugas ini
Saran dan kritik dari semua pihak
selalu kami tunggu demi perbaikan
dan kesempurnaan makalah ini. Kami berharap semoga hasil makalah ini dapat diterima dan
memberi manfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya. Besar harapan kami semoga hasil tugas ini menjadikan amal
sholeh dan menambah khasanah ilmu pengetahuan kita, Amin.
Madiun,
April 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................. ii
Daftar Isi ...................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................ 2
C. Tujuan.......................................................................................... 3
D.
Manfaat Penulisan....................................................................... 3
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri ..................................... 4
B.
Teori-Teori Dasar Yang Melandasi Model Inkuiri...................... 4
C.
Prinsip-Prinsip dalam Model Pembelajaran Inkuiri .................... 7
D.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Inkuiri ........................... 8
E.
Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri .......... 10
F.
Macam-Macam Model Pembelajaran Inkuiri ............................ 11
G.
Karakteristik Model Pembelajaran Inkuiri ................................ 12
H.
Keefektifan dan Kesulitan Model Pembelajaran Inkuiri .......... 12
I.
Penerapan Model Inkuiri dalam Pembelajaran IPA di SD........ 13
BAB III PENUTUP
A.
Simpulan.................................................................................... 15
B.
Saran.......................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada saat proses belajar–mengajar
maka akan terjadi hubungan timbal balik antara guru dan siswa yang beraneka
ragam, dan itu akan mengakibatkan terbatasnya waktu guru untuk mengontrol
bagaimana pengaruh tingkah lakunya terhadap motivasi belajar siswa. Selama
pelajaran berlangsung guru sulit menentukan tingkah laku mana yang berpengaruh
positif terhadap motivasi belajar siswa, misalnya gaya mengajar mana yang
memberi kesan positif pada diri siswa selama ini, strategi mana yang dapat
membantu kejelasan konsep selama ini, media dan metode mana yang tepat untuk
dipakai dalam menyajikan suatu bahan sehingga dapat membantu mengaktifkan siswa
dalam belajar.
Profesionalisme seorang guru
bukanlah hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi lebih kepada kemampuanya
melaksanakan pembelajaran yang menarik untuk siswa sehingga siswa lebih aktif
mengikuti pembelajaran. Daya tarik suatu pelajaran terletak pada dua hal yaitu
oleh mata pelajaran itu sendiri dan cara guru mengajar.
Cara
guru mengajar menjadi salah satu penentu keberhasilan proses belajar mengajar.
Salah satu caranya adalah dengan penerapan model
pembelajaran. Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman
dalam merencanakan pembelajaran. Model diartikan sebagai kerangka konseptual
yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.
Dalam proses pembelajaran yang
menggunakan model inkuiri, guru sebagai “fasilitator pembelajaran”. Siswa
mengajukan beberapa pertanyaan, menimbulkan hipotesis, penelitian dan
percobaan, menganalisis data, dan memberikan penjelasan sebagai bukti.
Inquiry dibentuk dan meliputi
discovery dan lebih banyak lagi. Dengan kata lain, inquiry adalah suatu
perluasan proses-proses discovery yang digunakan dalam cara lebih dewasa.
Sebagai tambahan pada proses-proses discovery, inquiry mengandung proses-proses
mental yang lebih tinggi
tingkatannya,
misalnya merumuskan problema sendiri, merancang eksperimen, melakukan
eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai
sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.
Johnson
dalam supriyono (2011:68) membedakan discovery learning dengan inquiry
learning. Discovery terdapat pengalaman yang disebut “ahaa experience” yang
dapat diartikan nah ini dia. Inquiry learning tidak selalu sampai pada proses
ini. Hal ini karena karena proses akhir discovery learning adalah penemuan,
sedangkan inquiry learning proses akhirnya terletak pada kepuasan kegiatan
meneliti. Discovery learning menekankan pada pengalaman seperti yang dialami
oleh peneliti ketika melakukan penemuan suatu temuan. Inquiry berarti guru
harus menyediakan situasi sedemikian rupa sehingga siswa didorong untuk
melakukan prosedur yang digunakan oleh penelitian. Persamaan discovery learning
dan inquiry learning yaitu kedua pembelajaran tersebut menekankan pada masalah
konstektual dan aktivitas penyelidikan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah diuraikan di atas terdapat berbagai permasalahan yang dapat
kami angkat dalam makalah ini, adapun masalah-masalah tersebut yaitu sebagai
berikut.
1. Apakah pengertian model pembelajaran inkuiri?
2. Sebutkan teori-teori yang melandasi model pembelajaran inkuiri ?
3. Apa sajakah prinsip-prinsip dalam model pembelajaran inkuiri ?
4. Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran inkuiri?
5.
Apakah kelebihan dan
kelemahan dari model pembelajaran inkuiri ?
6.
Sebutkan macam-macam model pembelajaran inkuiri ?
7.
Apakah karakteristik dalam model pembelajaran inkuiri ?
8.
Sebutkan keefektifan dan kesulitan dalam model pembelajaran inkuiri ?
9.
Bagaimanakah cara penerapan model inkuiri dalam pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) di SD ?
C.
Tujuan
Tujuan yang ingin
dicapai penulis dari rumusan masalah tersebut yaitu sebagai berikut:
1.
Memahami pengertian model
pembelajaran inkuiri.
2.
Mengetahui teori-teori
yang melandasi model pembelajaran inkuiri.
3. Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip dalam model pembelajaran inkuiri.
4. Mengetahui
langkah-langkah model pembelajaran inkuiri.
5.
Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran inkuiri.
6.
Mendeskripsikan macam-macam model pembelajaran inkuiri.
7.
Mengetahui karakteristik dalam model pembelajaran inkuiri.
8.
Mengetahui dan mendeskripsikan keefektifan dan kesulitan dalam model
pembelajaran inkuiri.
9.
Mengetahui dan memahami cara penerapan model inkuiri dalam pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD .
D. Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini,
yaitu:
1.
Dapat dijadikan
sebagai bahan bacaan mahasiswa calon guru SD.
2.
Dapat menunjang bahan
mata kuliah Pembelajaran Sains Kelas Tinggi.
3.
Dapat memberikan
pengetahuan bagi pendidik khususnya untuk guru SD
tentang model pembelajaran
inkuiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri
Kata
inkuiri berasal dari bahasa inggris “Inquiry”
berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau
penyelidikan.
Model
pembelajaran inquiry adalah rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan
analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan (Sanjaya, 2006).
Menurut
piaget bahwa model pembelajaran inquiry adalah
model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan
eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan
sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri,
serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan
apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain (mulyasa, 2008).
Dengan
melihat kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
inquiry adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada
situasi untuk melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara
kritis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan.
B.
Teori-Teori Dasar Yang
Melandasi Model Inkuiri
Adapun
teori-teori belajar yang mendasari proses pembelajaran dengan model inkuiri
antara lain:
1.
Teori belajar kontruktivisme
Menurut
pandangan teori ini siswa mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri melalui
interaksi dengan objek, fenomena, data-data, fakta-fakta, pengalaman dan
lingkungannya.
Pengetahuan yang dikontruksi
dianggap benar, bila pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk memecahkan
masalah sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Kontruktivisme
juga beranggapan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari
sesorang kepada orang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh
masing-masing individu. Artinya, pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah jadi,
melainkan proses yang berkembang terus menerus.
Salah satu
tokoh kontruktivisme yaitu Pieget berpendapat bahwa: ‘pengetahuan yang dibuat
dalam pikiran anak, selama anak tersebut terlibat dalam proses pembelajaran
merupakan akibat dari interaksi secara aktif dengan lingkunganya melalui proses
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses kognitif untuk menyerap
setiap informasi baru kedalam pikirannya seperti: presepsi, konsep, dan
sebagainya. Selanjutnya akomodasi masalah suatu proses restrukrisasi informasi
yang sudah ada atau kemampuan menyusun kembali struktur pikirannya karena
pengaruh informasi yang baru saja diterima.
Selain
piaget, ahli konstruktivisme Vygostsky berpendapat bahwa “perkembangan
intelektual seorang anak yang sedang mengalami proses pembelajaran juga oleh
faktor sosialnya”. Maksudnya, perkembangan anak secara kognitif dipengaruhi
oleh lingkungan sosial dimana anak itu berada.
Jadi,
belajar dianggap sebagai proses untuk mengkonstruksi pengetahuan yang dilakukan
oleh siswa secara mandiri. Karena siswa diarahkan untuk menjawab materi sesuai
dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya saat itu. Disamping itu,
dalam konstruktivisme proses belajar dipengaruhi oleh faktor pengalaman dan
lingkungan yang mendukung dalam memecahkan masalah, melakukan penyelidikan, dan
menarik suatu kesimpulan. Hal ini sejalan dengan rancangan materi yang
disesuaikan dengan masalah yang baisa dialami dilingkungan sehari-hari. Dengan
demikian teori
2.
Teori belajar ausubel
Belajar
menurut Ausubel (Dahar,1996:111) ada dua jenis, yaitu 1) belajar bermakna
(meaningful learning), dan 2) belajar menghafal (rate learning).
Belajar
bermakna merupakan suatu proses dimana setiap informasi atau pengetahuan baru
dihubungkan dengan struktur pengertian atau pemahaman yang sudah dimilikinya
oleh siswa sebelumnya. Belajar bermakna terjadi bila siswa mampu menghubungkan
setiap informasi baru kedalam struktur pengetahuan mereka. Hal ini terjadi
melalui pemahaman siswa terhadap sebuah konsep, mampu mengubah konsep melalui
proses asimilasi dan akomodasi konsep. Sehingga menyebabkan peningkatan
kemampuan untuk memecahkan masalah. Untuk itu dapat dikatakan teori belajar
bermakna dari Ausubel sesuai dengan model pembelajaran inkuiri. Karena siswa
mengidentifikasi masalah dan menyelesaikan materi secara mandiri tanpa
dibimbing oleh guru.
3.
Teori belajar penemuan dari Bruner
Salah satu
model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome
Bruner (1996) yang dikenal dengan nama belajar penemuan. Bruner menganggap,
bahwa “belajar penemuan sesuai dengan pencarian secara aktif oleh manusia”. Menurut Bruner,
siswa disarankan berusaha sendiri untuk memecahkan masalah yang berinteraksi
dengan lingkungan, agar mereka memperoleh pengalaman, melakukan eksperimen dan
menemukan konsep itu sendiri.
Catatan
dalam bukunya “The act Discovery” (1961), Bruner (Dahar,1996:92) mengemukakan
beberapa kebaikan dari belajar penemuan yaitu: • Meningkatkan potensi
intelektual • Mengalihkan ketergantungan dari hadiah eksentrik ke hadiah
intrinsik • Menguasai heuristika penemuan • Meningkatkan daya ingat Berdasarkan
pendapat yang diungkapkan Bruner, model inkuiri mempunyai kesesuaian dengan
teori belajar penemuan. Karena siswa diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan
pada lembar kerja sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan sendiri. Setelah itu
siswa berdiskusi dan dapat menarik kesimpulan sendiri mengenai materi yang
diberikan.
C. Prinsip-Prinsip dalam Model Pembelajaran Inkuiri
Adapun prinsip strategi
pembelajaran inkuiri yaitu:
1.
Berorientasi pada
Pengembangan Intelektual
Tujan utama dari strategi inkuiri adalah
pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri
ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses
belajar. Oleh karena itu, keberhaasilan dari proses pembelajaran dengan
menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat
menguasai materi pembelajaran, akan tetapi sejauh mana beraktifitas mencari dan
menemukan sesuatu.
2.
Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses
interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru,
bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses
interaksi, artinya menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi
sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu
mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan
berpikirnya melalui interaksi mereka.
3.
Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan
strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Dengan demikian,
kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan
sebagian dari proses berpikir.
4.
Prinsip Belajar untuk
Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan
tetapi belajar adalah proses berpikir, yaitu proses mengembangkan potensi
seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah
pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung
menggunakan otak kiri dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional,
akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar
berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan.
5.
Prinsip Keterbukaan
Belajar merupakan suatu proses mencoba berbagai
kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu
diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika
dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan
berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya.
Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa
mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang
diajukan.
D.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Inkuiri
Secara umum, langkah-langkah model pembelajaran inkuiri
sebagai berikut :
1.
Orientasi
Langkah
orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan
proses pembelajaran. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir
memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting.
Keberhasilan startegi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk
beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan
dan kemampuan maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar.
2.
Merumuskan masalah
Merumuskan
masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung
teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk
berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah
yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa
didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang
sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa
akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan
mental melalui proses berpikir.
3.
Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara
dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara,
hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang
perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga
hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir
logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki
serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang
mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
4.
Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas
menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang
sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan
hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan
ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5.
Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan
jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan
hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang
ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6.
Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses
mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada
siswa data mana yang relevan.
E.
Kelebihan dan Kelemahan
Model Pembelajaran Inkuiri
1.
Kelebihan
a)
Model pembelajaran inquiry
dapat memberikan ruang kepada siswa untuk
belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
b)
Model pembelajaran inquiry
merupakan model pembelajaran yang dianggap
sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar
adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
c)
Model pembelajaran inquiry
merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada
pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini
dianggap lebih bermakna.
d)
Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di
atas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan
terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
2. Kekurangan
a)
Jika model pembelajaran inquiry digunakan sebagai model
pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b)
Model ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena
itu terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c)
Kadang-kadang dalam mengimplementasikanya memerlukan waktu
yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah
ditentukan.
d)
Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh
kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiry
akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
F. Macam-Macam Model Pembelajaran Inkuiri
1)
Inkuiri
Induksi
Inkuiri induktif adalah model
inkuiri yang penetapan masalahnya ditentukan sendiri oleh siswa sesuai dengan
bahan/materi ajar yang akan dipelajari.
2)
Inkuiri
Deduksi
Inkuiri deduktif adalah model
inkuiri yang permasalahannya berasal dari guru. Siswa dalam inkuiri deduktif
diminta untuk menentukan teori/konsep yang digunakan dalam proses pemecahan
masalah.
G.
Karakteristik atau Ciri-ciri Model Pembelajaran Inkuiri
Ada
beberapa hal yang menjadi karakteristik
atau ciri-ciri utama pembelajaran inquiry
adalah sebagai berikut:
1)
Pembelajaran inquiry
menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan,
artinya pembelajaran inquiry menempatkan
siswa sebagai subjek belajar.
2)
Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk
mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang dipertanyakan sehingga dapat
menumbuhkan sikap percaya diri (self believe).
3)
Membuka intelegensi siswa dan mengembangkan daya kreativitas
siswa.
4)
Memberikan kebebasan pada siswa untuk berinisiatif dan
bertindak.
5)
Mendorong siswa untuk berfikir intensif dan merumuskan
hipotesisnya sendiri.
6)
Proses interaksi belajar mengajar mengarahkan pada perubahan
dari teacher centered kepada student centered.
H.
Keefektifan dan
Kesulitan Model Pembelajaran Inkuiri
1.
Keefektifan Model Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran Inkuri efektif apabila :
a)
Guru mengharapkan siswa
dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
b)
Jika bahan pelajaran
yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan
tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
c)
Jika proses
pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
d)
Jika akan mengajar pada
sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemampuan dan kemampuan berpikir.
e)
Jika siswa yang belajar
tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
f)
Jika guru memiliki
waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
2.
Kesulitan dalam Model Pembelajaran Inkuiri
Sebagai
suatu strategi yang baru, dalam penerapannya Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) terdapat beberapa
kesulitan diantaranya :
a)
SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses berpikir yang berstandarkan dua sayap yang sama penting, yaitu proses
belajar dan hasil belajar. Selama ini guru sudah terbiasa dengan pola
pembelajaran konvensional yang lebih menekankan pada penyampaian informasi
sehingga sulit untuk mengubahnya.
b)
Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar
pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru sehingga bagi mereka
guru adalah sumber belajar yang utama. Dengan demikian sulit untuk mengubah
cara belajar mereka sebagai proses berpikir. Akibatnya mereka akan mengalami
kesulitan manakala diajak memecahkan suatu persoalan, disuruh bertanya dan
menjawab pertanyaan.
c)
Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap
tidak konsisten. Sistem pendidikan menganjurkan agar proses pembelajaran lebih
mengarahkan pada cara belajar siswa aktif, tetapi sistem evaluasi masih
berorientasi pada pengembangan aspek kognitif saja. Dengan demikian guru
sebagai pelaksana di lapangan mengalami kebingungan.
I.
Penerapan Model Inkuiri
dalam Pembelajaran IPA di SD
Pendekatan
inkuri adalah suatu pendekatan yang menggunakan cara bagaimana atau jalan apa
yang harus ditempuh oleh siswa dengan bimbingan guru sampai pada
penemuan-penemuan.
Piaget
dalam Sliman (2007:4) menjelaskan tentang pendekatan inkuiri sebagai
pembelajaran ialah pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk
melakukan eksperimen sendiri, dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu,
ingin menggunakan simbol mencari jawaban
atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan satu dengan yang lain,
membandingkan apa yang mereka temukan dengan yang orang lain temukan. Menurut
(Jorolimek dalam Najimudin),inkuiri merupakan pendekatan siswa.
Melalui
pendekatan inkuiri guru akan membantu mengembangkan keterampilan dan sikap
percaya diri dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jika model ini sering
digunakan secara teratur berarti berguna untuk membelajarkan siswa dalam menemukan masalahnya sendiri dan sekaligus
memecahkannya.
Pendekatan
inkuiri merupakan proses pembelajaran yang menekankan pada pengembangan
kemampuan siswa untuk memecahkan satu masalah yang dibatasi oleh satu disiplin
ilmu.
Dalam
menanamkan konsep, misalnya konsep gerak di kelas III SD, pembelajaran ini akan
lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk melakukan dan ikut terlibat
secara aktif dalam menemukan konsep gerak benda yang dibimbing guru.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1.
Model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada
situasi untuk melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara
kritis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan.
2.
Sasaran utama kegiatan pembelajaran
inkuiri adalah keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan
belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan
belajar, mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan
dalam proses inkuiri. Namun dalam penerapannya, pembelajaran inkuiri ini
memiliki kelemahan seperti adanya kesulitan dalam mengontrol siswa,
ketidaksesuaian kebiasaan siswa dalam belajar, kadang memerlukan waktu yang
panjang dalam pengimplementasiannya, dan sulitnya dalam implementasi yang
dilakukan oleh guru bila keberhasilan belajar bergantung pada siswa.
3.
Teori-teori yang melandasi model
pembelajaran inquiri yaitu teori belajar kontruktivisme, teori belajar Ausubel,
teori belajar penemuan oleh Gagne.
4.
Langkah-langkah pembelajaran inkuiri
adalah sebagai berikut orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan kesimpulan.
5.
Model pembelajaran inquiry
mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan
problema sendiri, merancang eksperimen sendiri, melakukan eksperimen sendiri,
mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap
obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Bahri Syaiful, dkk, 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pt Rineka Cipta.
Hamzah, B. 2007. Model
Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Kunandar.
2007. Guru Professional Implementasi
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta:
Raja Grafindo.
Mulyasa. 2008. Menjadi guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Muslich
Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis
Kompetensi Dan Kontekstual.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Perdana Media Group.
Suprijono,
A. 2011. Cooperative Learning.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Trianto. 2010. Model
Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: PT Bumi Aksara.

