Powered By Blogger

Jumat, 26 Juni 2015

Karya Tulis Ilmiah





KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA 2015


JUDUL
Produk Kewirausahaan KERAITAR (Kerang Air Tawar) sebagai Makanan Bergizi serta Kulit Kerang Bernilai Seni Guna Menanggulanggi Kemiskinan dan Penggangguran Di daerah Tertinggal


                Diusulkan Oleh :
                            EVILLIA ANGGRAINI                  NPM: 13.141.178


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
MADIUN
2015
RINGKASAN

Poverty is a condition in which the individual's inability to meet its needs in material and non-material. Poverty has always been problematic highlighted in particular the poor and developing country. In Indonesia, which currently goes into developing countries, the problem of poverty is still a problem that has not been resolved completely. From the early days of independence until today, various attempts have been made by any nation in the era leader, but still remains unresolved. In September 2014, the number of poor people (the population with per capita monthly expenditure below the poverty line) in Indonesia reached 27.73 million people, or 10.96%, decreased by 0.55 million people dbandingkan with poor occupation in March 2014 which amounting to 28.28 million people, or 11.25%. Although in September decreased, the poverty rate in Indonesia is still quite high. For that there are still many tasks of government in addressing poverty in Indonesia.
Presidential Decree (Decree) Nomor.10 Year 2010 on Accelerating Poverty Reduction, the 3 (three) groups as an instrument of poverty alleviation programs acceleration of national poverty reduction. Group-based poverty reduction programs empowerment / National Program for Community Empowerment (PNPM Mandiri) are included in Cluster 2 consists of 12 programs to reduce poverty by implementing community development approach which is managed by various ministries / agencies.
Community empowerment programs to reduce poverty is one of them by making KERAITAR products (shellfish Freshwater). KERAITAR is a food product and kerajianan base ingredients such as shellfish. Shells on freshwater ecosystem commonly called gravestone. Meat local gravestone (Pilsbryoconcha Exilis) contains unsaturated fatty acids eicosapentaenoic acid (EPA) and docosahexaenoic acid (DHA), which can increase intelligence. Gravestone Meat also contains animal protein rich in essential mino acids (arginine, leucine, and lysine). Gravestone much used as food for humans and as a source of animal protein.


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kemiskinan dapat dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu, keluarga, maupun kelompok sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial. Kemiskinan telah menjadi masalah yang kronis karena berkaitan dengan kesenjangan dan pengangguran. Jadi pemecahannya pun harus terkait dan juga komprehensif dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lebih jauh kemiskinan menjadi bukan sekadar masalah ekonomi tetapi masalah kemanusiaan. Hampir semua negara menghadapi masalah ini. Bahkan Amerika Serikat yang merupakan negara kaya namun masih menghadapi masalah kemiskinan. Disisi lain bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, kemiskinan merupakan masalah terberat yang harus dihadapi. Kemiskinan seakan sudah menjadi bagian dari takdir manusia. Namun menurut Muhammad Yunus (Penerima hadiah nobel perdamaian tahun 2006) yang ditulis dalam bukunya yang berjudul creating a world without poverty menjelaskan bahwa dunia bebas dari kemiskinan itu tidaklah mustahil. Kemiskinan bukan diciptakan oleh masyarakat miskin tapi diciptakan oleh sistem yang ada di masyarakat. Namun apabila kita semua tidak peduli terhadap kemiskinan berarti kita juga menjadi bagian dari sistem yang menciptakan kemiskinan itu sendiri.
Di  Indonesia sendiri banyak program-program yang telah berhasil mengurangi angka kemiskinan. Jika kita melihat data jumlah penduduk miskin dari tahun 1976 yang mencapai 54,2 juta (40.1%) menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996. Kemudian karena adanya krisis yang mendera bangsa ini efeknya mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin sebesar 47,9% (23.4%) pada tahun 1999. Era reformasi jumlah penduduk miskin perlahan-lahan menurun menjadi 36.1 juta (16.7%) ditahun 2004.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan gagalnya program-program pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan: pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. Seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Beras Raskim, Bantuan Eksodus dan lain-lain. Hal ini merupakan hanya bantuan yang akan berindikasi pada ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan karena tidak didasarkan pada pemberdayaan masyarakat menuju masa depan yang bisa mandiri tanpa bantuan secara terus menerus hingga menimbulkan utang luar negari. 
Pemerintah juga harus dapat menciptakan program-program yang lebih ke arah ekonomi produktif sehingga masyarakat dapat membuat sebuah usaha secara permanen dengan bantuan dari program pemerintah dan ini tidak berdampak pada kerugian. Kedua, minimnya pemahaman dari pihak yang terkait karena dalam pembuatan program ditentukan secara nasional padahal tanah air kita memiliki banyak pulau, suku dan kebudayaan yang pasti akan berbeda-beda terhadap kelangsungan hidup masyarakatnya. 
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah cara mengimplementasikan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertingal?
2.    Bagaimanakah mengembangkan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertingal ?
C.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diketahui tujuan, sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui dan memahami cara penerapan KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertingal.
2.    Untuk mengetahui dan memahami bagaimana cara mengembangkan KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertingal
D.  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat  karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.    Menanggulangi angka kemiskianan di Indonesia.
2.    Mengurangi angka penggangguran di Indonesia.
3.    Membuat lapangan pekerjaan bagi masyarakat di daerah tertinggal.
4.    Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan tentang kewirausahan.
E.  Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus dan tidak meluas, penulis membatasi penelitian pada mengimplementasian produk KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertinggat, serta mengembangkan kewiarusahaan pada daerah tertinggal dengan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar).
  BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.  Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidak mampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. kemiskinan dapat juga dikatakan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.
Dalam kamus ilmiah populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang ada tidak mencukupi kebutuhan) atau bokek. Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula sejak masa neo-klasik di mana kemiskinan hanya dilihat dari interaksi negatif (ketidak seimbangan) antara pekerja dan upah yang diperoleh.
B.  Kemiskinan di Indonesia
Kemiskinan adalah masalah ekonomi yang pasti dialami oleh semua negara termasuk Indonesia sebagai negara dengan kategori negara berkembang. Upaya sebuah negara berubah menjadi semakin maju tidak berarti tidak meninggalkan masalah. Kemiskinan adalah sebuah masalah sensitif karena melibatkan banyak sekali unsur di dalamnya, bahkan tidak hanya masalah keuangan atau ekonomi, tetapi juga merembet ke permasalahan perbedaan status sosial dan SARA sehingga kemiskinan adalah sebuah permasalahan yang bersifat multi dimensional. Maksudnya adalah kemiskinan memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin secara aset organisasi sosial politik, pengetahuan dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin akan relasi, sumber-sumber keuangan dan informasi. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut dapat ditemui dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang sehat, pelayanan kesehatan yang kurang memadai dan tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, dimensi-dimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Fenomena kemiskinan sendiri berkaitan erat dengan konsep dan permasalahan ketidak adilan dan disintegrasi kelompok, menunjuk pada sebuah jalinan konsep yang memberi sebuah pengertian yang saling berkait satu sama lain. Masing-masing konsep bisa dilihat secara tunggal dengan pengertian tersendiri atau analisis saling keterkaitan atau keterhubungan satu dengan lainnya dalam konteks kausalitas. Kemiskinan bisa terjadi karena adanya ketidak adilan di masyarakat yang dapat mengganggu rasa kebersamaan, atau karena perlakuan yang tidak adil dalam perlakuan/pemerataan, ada masyarakat yang merasa miskin dalam berbagai hal yang berakibat pada pertentangan dan perpecahan[1].
Secara umum Indonesia adalah negara yang sedang berproses menuju negara industri yang maju. Hal ini ditandai dengan sedikitnya efek yang diterima ketika terjadi krisis ekonomi global tahun 2008 kemarin, tepat di belakang negara-negara industri besar dunia seperti Cina dan India. Namun bagaimanapun Indonesia tetaplah negara berkembang yang memiliki permasalahan ekonomi termasuk kemiskinan. Indonesia memiliki ciri-ciri sebagaimana karakter yang ada di negara-negara dunia ketiga lainnya. J. W. Schrool (1981:232)[2] menjelaskan bahwa ada 15 ciri-ciri negara berkembang, yaitu:
1.      Tidak cukup makan, dengan batasa kurang dari 2. 500 kalori
2.      Struktur agraria lemah karena pembagian tanah milik yang tidak baik, sehingga seorang petani hanya memiliki tanah yang tidak begitu luas.
3.      Industri kurang berkembang, karena kecilnya persentase penduduk yang bekerja di sektor industri.
4.      Tidak banyak menggunakan tenaga mesin dan masih menggunakan tenaga manusia atau hewan.
5.      Ketergantungan ekonomi tinggi, khususnya pada bantuan luar negeri
6.      Perkambangan sektor perdagangan dan pelayanan terlalu maju, tidak seimbang dengan sektor pertanian dan industri.
7.      Struktur sosial terbelakang dan belum sesuai dengan masyarakat modern
8.      Kelas menengah tidak begitu maju sehingga tidak ada yang memanikan peranan penting dalam perkambangan perekonomian.
9.      Pengangguran terbuka dan pengangguran terselubung jumlahnya besar.
10.  Tingkat pengajaran rendah sehingga angka buta huruf masih tinggi.
11.  Mutu pengajaran juga rendah karena tidak ada perencanaan yang baik.
12.  Angka kelahiran tinggi.
13.  Keadaan kesehatan jelek, ditandai dengan angka kematian yang cukup tinggi sehingga berpengaruh juga terhadap produksi.
Sejak pemerintahan zaman orde lama hingga pasca reformasi, ada beberapa moment krusial tentang kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Seperti di zaman Orde Baru pimpinan Soeharto. Pasca turunnya Soekarno dan diangkatnya Soeharto sebagai Presiden, beliau mencangkan program-program pembentuk ekonomi rakyat dengan cita-cita membentuk Indonesia sebagai negara dengan spesialisasi tertentu dan terwujud ide untuk melakukan swasembada pangan (beras). Secara gasir besar, sumber-sumber program-program pembangunan yang Soeharto buat adalah dari pinjaman-pinjaman luar negeri seperti IMF dan Consultative Group on Indonesia, sebuah organisasi negara kreditor untuk Indonesia yang di sponsori oleh Perancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. [3]
Tabel. Kemiskinan Di Indonesia Tahun 1996-2000
Tahun
Jumlah Penduduk Miskin (Juta Orang)
Persentase Penduduk Miskin
Kota
Desa
Kota+Desa
Kota
Desa
Kota+Desa
1996
  7,20
  15,30
  22,50
  9,70
  12,30
  11,30
1997
  9,42
  24,59
  34,01
  13,39
  19,78
  17,47
1998
  17,60
  31,90
  49,50
  21,92
  25,72
  24,20
1999
  15,64
  32,33
  47,97
  19,41
  26,03
  23,43
2000
  12,31
  26,43
  38,74
  14,60
  22,38
  19,14
Sumber : Badan Pusat Statistik

Krisis ekonomi 1997/1998 telah mengubur prestasi ekonomi Orde Baru. kemiskinan melonjak tajam hingga mencapai 24,2% di tahun 1998. Hal ini sangat disayangkan padahal sebelumnya perekonomian kita mendapat pujian sebagai salah satu kejaiban ekonomi Asia(Sjahrir, 1997 ; Stamboel, 2012)[4]. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998, semakin meluas menjadi krisis politik yang justru menyebabkan semakin parahnya kondisi perekonomian Indonesia. Demonstrasi mahasiswa merebak ke seluruh penjuru nusantara. Rupiah yang sempat menguat Rp. 7. 000 per satu dollar AS, melemah kembali ke tingkat Rp. 9. 000. Lebih-lebih setelah pemerintah memustuskan menaikan harga BBM.
Lepas dari krisis 1998, Indonesia mulai menata kembali perekonomian. Pemerintah menyadari bahwa harus adanyas ebuah jaminan sosial agar nantinya kemungkinan terjadinya krisis ekonomi seperti kejadian 1998 tidak terulang. Sejak saat itu lahir Jaminan Pengaman Sosial (JPS) yang melindungi masyarakat miskin dan rentan miskin dari guncangan ekonomi. Sejak tahun 2000, konsep JPS mulai dikaji, dikembangkan dan sedikit demi sedikit dijalankan. Di periode Kabinet Indonesia Bersatu I dan II, konsep JPS iniberkembang baik. TNP2K yang bekerja langsung dibawah Wakil Presiden langsung menanganinya. Program penanganan kemiskinan ini berevolusi menjadi program empat kluster (bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan UMKM dan program murah) yang merupakan program andalan pemerintah.
C.  Faktor Yang Mempengaruhi Kemiskinan di Indonesia
1.      Pendapatan Per Kapita Penduduk
Tingginya pertumbuhan pendapatan per kapita tidak akan terlalu berdampak apabila tidak disertai dengan perbaikan dalam hal distribusi pendapatan. Perubahan pendapatan per kapita mempunyai pengaruh yang negatif terhadap kemiskinan. Peningkatan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai oleh Indonesia hanya dinikmati oleh sebagian kecil penduduk. Sementara sebagian besar penduduk yang saat ini hidup dalam kemiskinan tidak menikmati capai tersebut. Dengan kata lain meskipun ekonomi tumbuh dengan baik, tetapi mereka tetap berada dalam kemiskinan. Peningkatan kontra prestasi (gaji, honor, upah, dan bentuk lain) yang selama ini terjadi di Indonesia hanya dinikmati oleh sebagian orang. Peningkatan kontra prestasi tersebut tidak sampai menyentuh pada kelompok yang berada pada garis kemiskinan.
2.      Rasio Ketergantungan Penduduk
Kemiskinan juga dipengaruhi oleh rasio ketergantungan penduduk. Besarnya penduduk yang beraktifitas sebagai ibu rumah tangga, menganggur, dan sedang sekolah akan semakin memperbesar rasio ketergantungan penduduk. Tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengurangan faktor penyebab kemiskinan. Artinya jikalau nantinya penduduk yang saat ini sedang sekolah (SMP/SMA/Diploma/Sarjana) telah lulus, maka kehadira mereka tidak akan membantu mengurangi faktor penyebab kemiskinan. Tetapi kehadiran mereka justru akan menambah besar nilai rasio ketergantungan. Dengan kata lain kemungkinan mereka untuk menjadi pengangguran lebih besar karena sistem pendidikan yang tidak memiliki link and match dan miskin praktek/ keterampilan.
Meningkatnya rasio ketergantungan akan meningkatkan proporsi populasi yang hidup dalam kemiskinan. Angka kelahiran yang tinggi berimplikasi pada tingginya rasio ketergantungan. Negara-negara berkembang di Asia yang sukses mengurangi angka kelahiran, maka rasio ketergantungannya relatif rendah. Kemiskinan akan meningkat seiring dengan meningkatnya rasio ketergantungan.
Faktor penyebab munculnya rasio ketergantungan adalah adanya tingkat kelahiran yang tinggi. Penyebab kemiskinan adalah adanya ledakan penduduk yang tidak terkendali karena ledakan penduduk akan menimbulkan pola hidup yang serba pas-pasan. Masyarakat miskin tidak akan pernah berhasil mencapai taraf hidup yang lebih tinggi dari tingkat subsiten, kecuali apabila mereka mengadakan pemeriksaan pengendalian preventif terhadap pertumbuhan populasi mereka, atau dengan menerapkan pengendalian kelahiran. Apabila setiap keluarga memiliki tiga orang anak yang berarti dalam satu keluarga akan terdiri dari lima jiwa. Semakin besar jumlah anak maka semakin besar jumlah tanggungan yang harus di tanggung oleh kepala keluarga. Selanjutnya semakin besar jumlah penduduk yang berusia tidak produktif makan semakin besar tanggungan yang harus di tanggung oleh penduduk usia produktif.
3.      Pertumbuhan Ekonomi
Tidak ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mampu mengurangi munculnya kemiskinan. Karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi justru hanya memicu munculnya kesenjangan pendapatan dan in-equality. Pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap upaya menaikkan pendapatan penduduk miskin serta pertumbuhan ekonomi tidak bisa mengurangi ketimpangan pendapatan antara orang kaya dan orang miskin. Tingginya pertumbuhan pendapatan per kapita tidak akan terlalu berdampak apabila tidak disertai dengan perbaikan dalam hal distribusi pendapatan. Perubahan pendapatan per kapita mempunyai pengaruh yang negatif terhadap kemiskinan dan semakin besar ketimpangan distribusi pendapatan (gini ratio) maka semakin besar tingkat kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang selama ini dicapai oleh Indonesia ternyata tidak mampu mengurangi faktor penyebab kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang di Indonesia. Efeknya akan memunculkan kemiskinan struktural dimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang kaya, sementara bagian terbesar masyarakat yang tetap miskin.
Pengurangan kemiskinan di suatu negara dan di waktu tertentu ditentukan secara penuh oleh tingkat pertumbuhan ekonomi dan perubahan distribusi pendapatan. Hubungan ini sesuai dengan teori “tricle down effect” dimana bila ekonomi tumbuh, maka secara otomatis akan terjadi pemerataan hasil-hasil pembangunan atau perembesan ke bawah sehingga hasil-hasil pembangungan dapat dinikmati oleh kelompok miskin. Dengan demikian kaum miskin dapat keluar dari kemiskinannya.
4.      Persentase Tenaga Kerja Di sektor Pertanian
Kemiskinan di pedesaan di Indonesia dapat berkurang dengan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Sehingga pembangunan pedesaan dan pertanian, dimana ada kenaikan produktivitas per hektar atau pada rumah tangga, seharusnya diprioritaskan untuk bagian pulau di luar Jawa dan Bali dimana tingkat kemiskinannya yang tinggi. Persentase tenaga kerja di sektor pertanian tidak mampu mengurangi faktor penyebab kemiskinan karena sektor pertanian dan mempunyai tingkat pendidikan SD kebawah. Oleh karena itu program pengentasan kemiskinan di sektor pertanian perlu diprioritaskan. Pembangunan sektor pertanian melalui perbaikan lahan pertanian, perikanan, dan kehutanan serta pembangunan masyarakat pedesaan perlu menjadi pijakan untuk membawa masyarakat Indonesia keluar dari permasalahan kemiskinan.
5.      Pengaruh Penghasilan Terhadap Kemiskinan
Menurut Sumardi (1983 : 65), penghasilan adalah uang yang diterima dan diberikan kepada subyek ekonomi berdasarkan prestasinya yang diserahkan yaitu berupa pendapatan dari pekerjaan yang telah dilakukannya, pendapatan dari profesi yang dilakukan sendiri atau usaha perorangan dan pendapatan dari kekayaan serta dari sektor subsistem.
Penghasilan merupakan pendapatan yang berbentuk uang. Seseorang yang memiliki penghasilan rendah maka akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya seperti, kebutuhan pangan, papan, maupun sandang. Seseorang yang memiliki pendapatan yang tinggi dapat menyisakan hasil pendapatannya untuk memutar kembali uang yang telah diperoleh agar dapat menghasilkan tambahan pendapatan. Sedangkan seseorang yang memiliki pendapatan rendah tidak dapat menyisakan ataupun memutar kembali uang yang diperoleh, karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sangat kesulitan.
Seseorang orang yang pekerjaan jauh lebih ringan dan santai justru mendapatkan pendapatan yang tinggi karena lebih memiliki tanggung jawab yang besar. Berbeda dengan seseorang yang pekerjaannya jauh lebih berat malah mendapatkan penghasilan yang rendah, padahal sudah mengeluarkan tenaga yang cukup besar.
Menurut Djojohadikusumo (1989 : 20), pendapatan per kapita menunjukan tingkat hidup masyarakat dalam suatu wilayah. Dengan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat, maka kesejahteraan masyarakat dalam suatu wilayah tersebut juga akan meningkat. Oleh karena itu pendapatan per kapita suatu wilayah sering kali menjadi tolak ukur dari ketidak berhasilan suatu daerah untuk menciptakan pembangunan yang pesat.
D.  Perkembangan Kewirausahaan di Indonesia
          Disaat perekonomian dunia mengalami kemunduran, seperti di Amerika dan Eropa yang mengalami krisis ekonomi. Dunia mulai melihat pada negara-negara yang memiliki potensi pasar, daya jual-beli yang kuat dan menunjukan perkembangan ekonomi yang pesat. Negara-negara ini memiliki potensi ekonomi yang besar di masa depan, mereka memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia sebagai kekuatan daya beli dan tenaga kerja yang murah dan terampil. Negara-negara tersebut adalah negara-negara dengan perekonomiannya tumbuh pesat seperti singapura, jepang, korea, jerman.
          Pada saat seperti itu bagaimana dengan indonesia? indonesia masih tertinggal jauh dalam masalah perekonomian itu disebabkan karena rendahnya pertumbuhan ekonomi, banyaknya jumlah pengangguran, kemiskinan yang menjamur, kesenjangan penghasilan dan masih banyak lagi.
          Negara maju seperti jepang hampir sebagian penduduk disana mempunyai impian untuk menjadi entrepreneur atau pengusaha faktor itulah yang menyebabkan majunya perekonomian disana. Di Indonesia hanya sekitar 570.339 orang atau 0,24% dari jumlah penduduk yang berjumlah 270 juta jiwa yang menjadi entrepreneur, padahal untuk menjadikan perekonomian di negara itu maju membutuhkan sekitar minimal 2% dari jumlah penduduk. lalu, minat masyarakat untuk menjadi wirausaha juga masih rendah. Untuk lulusan Perguruan Tinggi, yang berminat menjadi wirausaha hanya 6,4 persen, sementara untuk tingkat SLTA jumlahnya hanya 22,4 persen.Padahal, potensi pemuda kita (untuk bisa menjadi wirausaha) saat ini relatif besar, dimana tingkat kelulusan Strata I mencapai 300 ribu orang dan SLTA mencapai 2,5 juta orang per tahun. Apalagi, per tanggal 31 Desember 2015 mendatang, kita akan memasuki era perdagangan bebas Menurut David McClelland, untuk menjadi negara yang makmur, suatu negara harus memiliki minimum dua persen entrepreneur dari total penduduknya. Jadi, di Indonesia, mestinya minimal ada 4,75 juta wirausaha.
          Dengan adanya kewirausahaan masyarakat dapat mempunyai kemampuan untuk  menciptakan dan menyediakan produk yang bernilai tambah atau inovasi-inovasi yang baru sehingga dapat menjadikan masyarakat lebih kreatif dalam menyampaikan ide-ide dan kreasinya, mereka bisa menciptakan barang yang dirasa perlu dan penting untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri sehingga tidak perlu menimpor dari luar negeri. Selain itu masyarakat tidak tergantung dengan pemerintah seperti tenaga kerja negri (PNS) yang masih di gaji oleh pemerintah, bahkan seorang wirausaha akan mendatangkan omset yang akan di berikan ke negara melalui pajak. Secara tidak langsung kesejahteraan ekonomi masyarakat bisa stabil.

BAB III
PEMBAHASAN
A.  Implementasi Produk KERAITAR (Kerang Air Tawar)
Dalam rangka menanggulangi kemiskinan yang berada di daerah-daerah tertinggal banyak Sumber Daya  Alam yang dapat di manfaatkan. Salah satunya kerang atau kijing, kerang merupakan hewan avertebrata bercangkang yang dapat hidup pada dasar atau menempel pada substrat di dalam suatu perairan. Kerang pada umumnya sangat mudah untuk didapatkan karena kerang air tawar hidup di sungai. Kerang air tawar yang sebelumnya tidak bernilai ini mampu meningkatkan sektor dalam bidang kewirausahan di daerah daerah yang tertinggal maupun daerah terpencil.
Daerah yang masyarakatnya belum memiliki penghasilan ataupun pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhannya bisa memngembangkan kerang sebagai produk untuk membuat makanan dan kerajinan. Kerang air tawar memiliki banyak kegunaan mulai dari daging sampai cangkangnya. Untuk saat ini cangkangnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan. Daging kerang air tawar dapat digunakan sebagai makanan yang dikonsumsi setelah melalui proses pemasakan. Hasil olahan dari makanan yang berbahan dasar kerang tersebut bisa berupa kerang krispi,kerang bakar.
Namun, disini masyarakat mampu mengembangkan kreatifitasnya dalam mengelola kerang sebagai produk makan yang belum pernah dipasarkan. Salah satunya membuat kerang air tawar itu sebagai produk makanan nungget yang berbahan dasar kerang air tawar.produk yang sebleumnya belum pernah dipasarkan itu akan meningkatkan penghasilan dalam bidang kewirausahan bagi masyarakat yang berada didaerah tertinggal serat mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat-masrakat yang belum memiliki pekerjaan tetap. Untuk pengelolaan produk KERAITAR ini masyarakatan melakukannya dengan cara bergotong royong membangun rumah industri.
Dalam proses pemasaran masayarakat bisa memasarakan produk terserbut dengan menjual produk KERAITAR di toko-toko ataupun membuat outlet-outlet di setiap daerah. Dan untuk kerajinan kerang air tawar masyarakat mampu membuat kerajian yang kreatif dan bernilai seni dengan bahan utamanya yaitu cangkang kerang air tawar.
Masyarakat yang memiliki kreatifitas yang tinggi mampu mengurangi penggangguran yang berada di daerah-daerah tertinggal. Karena pada dasarnya semakin banyak sektor atau lahan untuk lapangan pekerjaan semakin besar pula peluang masyarakat unutk meningkat penghasilan dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertinggal.
B.  Langkah-Langkang Membuat Produk KERAITAR (Kerang Air Tawar)
Untuk mengelolah dan memproduksi Nugget KERAITAR (Kerang Air Tawar) dan kerajinan ynag bernilai seni berikut ini alat, bahan dan cara pembuatannya:
             1.          Nungget KERAITAR (Kerang Air Tawar)
a.       Alat
Parutan, saringan, wajan, pisau, spatula, cetakan, sarung tangan plastik, baskom, panci, pemanggang, piring.
b.      Bahan
Kerang air tawar, tepung terigu & tepung roti, telur, garam, gula pasir, bawang putih, bawang merah, kemiri, masako, minyak goreng, kotak pembungkus, ABC saus tomat, ladaku.
c.       Cara Pembuatan
Mempersiapkan alat dan bahan. Campurkan semua bahan diatas, kerang garam, merica, bawang putih, bawang merah, kemiri, masako, telur kemudian aduk hingga rata.
Masukkan adonan ke dalam cetakan atau loyang yang telah diolesi mentega cair terlebih dahulu, lalu kukus adonan selama setengah jam. Potong-potong dan bantuk sesuai selera, setelah itu lumuri atau lapisi dengan telur, lalu tepung roti. Kukus nungget, angkat dan tiriskan. Nugget kerang siap untuk dihidangkan.
             2.          Kerajinan KERAITAR (Kerang Air Tawar)
a.       Alat dan bahan
Gergaji, kayu triplek, kaca, amplas, lem kaca, cat, kuas, kawat, kulit kerang air tawar
b.      Cara Pembuatan
Mempersiapkan alat-alat. Membuat pola di kertas. Semua pola ditempel pada kayu triplek. Di potong sesuai dengan pola yang telah dibuat. Menempelkan kulit kerang air tawar ke pola dengan cara di lem. Mewarnai sesuai desain. Setelah kering kemudian di bingkai. Pemasangan kawat di belakang sebagai pengait.
C.  Kelebihan Produk KERAITAR (Kerang Air Tawar)
Dalam pengelolahan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam rangka menanggulangi kemiskinan yang berada di adaerah tertinggal banyak keuntungak atau kelebihan yang terdapat pada produk yang di kelolah tesebut, antara lain sebagai berikut:
1)        Membuat produk yang unik.
2)        Mengelolah makanan dengan bahan yang langka di gunakan pada umunya.
3)        Meproduksi makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi.
4)        Membuat kerajinan yang memiliki nilai estetika.
5)        Dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan.
D.  Kelemahan Produk KERAITAR (Kerang Air Tawar)
Dalam pengelolahan terdapat kelemahan dari produk ini adalah bahan dasar dari produk ini tidak bisa didapatkan di semua daerah, hanya daerah-daerah tertentu yang memiliki sungai air tawar dimana terdapat komunitas kerang didalammya.

BAB IV
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Dalam menanggulangi kemiskinan yang terjadi di Indonesia khususnya pada daerah-daerah tertinggal. Masyarakat mampu memanfaatkan Sumber Daya Alam yang melimpah di daerah sekitar. Dengan cara mengelolah atau memproduksi bahan pangan dan kerajinan yang belum pernah atau belum ada yang memproduksinya. Salah satunya dengan memanfaatkan hasil alam seperti KERAITAR (Kerang Air Tawar). Kerang yang dijadikan sebagai bahan utama dalam pembuatan nungget dan cangkangnya dibuat kerajian yang memiliki nilai jual tinggi. Dengan kretifitas yang dimiliki oleh seseorang mampu meningkatkan penghasil dan mampu mengurangi angka penggangguran di Indonesia dengan menciptakan lapangan pekerjaan di bidang kewirausahaan.
B.       SARAN
Dalam rangka mengurangi presentase angka kemiskinan di Indonesia diharpakan masyarakat mampu mengembangkan kreatitasnya dalam bidang kewirausahaan. Masyarakat juga harus mampu mengembangkan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar) agar produk pangan dan kerajinan tersebut mampu menjadi produk yang populer didaerah-daerah lainnya. Agar tercapainya keinginan bangsa Indonesia untuk mensejahterakan rakyatnya, diharapkan masyarakat dan lembaga-lembaga pemerintahan mampu bekerjasama dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Mankiw, Gregory. (2006). Makroekonomi Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Suparlan, Parsudi. (1993). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta
Suharto, E. (2008). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama
https://www.academia.edu/881929/FAKTOR_KEMISKINAN_DAN_UPAYA_PENANGGULANGAN_PEMERINTAH_INDONESIA_MAKALAH_Diajukan_Untuk_Memenuhi_Tugas_Mata_Kuliah_Perekonomian_Indonesia_Dosen_Pembimbing






Tidak ada komentar:

Posting Komentar