KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA 2015
JUDUL
Produk Kewirausahaan KERAITAR (Kerang Air Tawar) sebagai Makanan Bergizi serta Kulit Kerang
Bernilai Seni Guna Menanggulanggi Kemiskinan dan Penggangguran Di daerah
Tertinggal
Diusulkan Oleh :
EVILLIA
ANGGRAINI NPM: 13.141.178
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
IKIP PGRI
MADIUN
MADIUN
2015
RINGKASAN
Poverty is a condition
in which the individual's inability to meet its needs in material and non-material.
Poverty has always been problematic highlighted in particular the poor and
developing country. In Indonesia, which currently goes into developing
countries, the problem of poverty is still a problem that has not been resolved
completely. From the early days of independence until today, various attempts
have been made by any nation in the era leader, but still remains unresolved.
In September 2014, the number of poor people (the population with per capita
monthly expenditure below the poverty line) in Indonesia reached 27.73 million
people, or 10.96%, decreased by 0.55 million people dbandingkan with poor
occupation in March 2014 which amounting to 28.28 million people, or 11.25%.
Although in September decreased, the poverty rate in Indonesia is still quite
high. For that there are still many tasks of government in addressing poverty
in Indonesia.
Presidential Decree
(Decree) Nomor.10 Year 2010 on Accelerating Poverty Reduction, the 3 (three)
groups as an instrument of poverty alleviation programs acceleration of
national poverty reduction. Group-based poverty reduction programs empowerment
/ National Program for Community Empowerment (PNPM Mandiri) are included in
Cluster 2 consists of 12 programs to reduce poverty by implementing community
development approach which is managed by various ministries / agencies.
Community empowerment
programs to reduce poverty is one of them by making KERAITAR products
(shellfish Freshwater). KERAITAR is a food product and kerajianan base
ingredients such as shellfish. Shells on freshwater ecosystem commonly called
gravestone. Meat local gravestone (Pilsbryoconcha Exilis) contains unsaturated
fatty acids eicosapentaenoic acid (EPA) and docosahexaenoic acid (DHA), which
can increase intelligence. Gravestone Meat also contains animal protein rich in
essential mino acids (arginine, leucine, and lysine). Gravestone much used as
food for humans and as a source of animal protein.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemiskinan
dapat dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu,
keluarga, maupun kelompok sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya
permasalahan sosial. Kemiskinan telah menjadi masalah yang kronis karena
berkaitan dengan kesenjangan dan pengangguran. Jadi pemecahannya pun harus
terkait dan juga komprehensif dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lebih
jauh kemiskinan menjadi bukan sekadar masalah ekonomi tetapi masalah
kemanusiaan. Hampir semua negara menghadapi masalah ini. Bahkan Amerika Serikat
yang merupakan negara kaya namun masih menghadapi masalah kemiskinan. Disisi
lain bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, kemiskinan merupakan
masalah terberat yang harus dihadapi. Kemiskinan seakan sudah menjadi bagian dari
takdir manusia. Namun menurut Muhammad Yunus (Penerima hadiah nobel perdamaian
tahun 2006) yang ditulis dalam bukunya yang berjudul creating a world without poverty menjelaskan bahwa dunia bebas dari
kemiskinan itu tidaklah mustahil. Kemiskinan bukan diciptakan oleh masyarakat
miskin tapi diciptakan oleh sistem yang ada di masyarakat. Namun apabila kita
semua tidak peduli terhadap kemiskinan berarti kita juga menjadi bagian dari
sistem yang menciptakan kemiskinan itu sendiri.
Di Indonesia sendiri banyak
program-program yang telah berhasil mengurangi angka kemiskinan. Jika kita
melihat data jumlah penduduk miskin dari tahun 1976 yang mencapai 54,2 juta
(40.1%) menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996. Kemudian karena adanya
krisis yang mendera bangsa ini efeknya mengakibatkan bertambahnya jumlah
penduduk miskin sebesar 47,9% (23.4%) pada tahun 1999. Era reformasi jumlah
penduduk miskin perlahan-lahan menurun menjadi 36.1 juta (16.7%) ditahun 2004.
Ada beberapa
faktor yang menyebabkan gagalnya program-program pemerintah dalam menanggulangi
kemiskinan: pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini
cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.
Seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Beras Raskim, Bantuan Eksodus dan
lain-lain. Hal ini merupakan hanya bantuan yang akan berindikasi pada
ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan karena tidak didasarkan pada
pemberdayaan masyarakat menuju masa depan yang bisa mandiri tanpa bantuan
secara terus menerus hingga menimbulkan utang luar negari.
Pemerintah juga
harus dapat menciptakan program-program yang lebih ke arah ekonomi produktif
sehingga masyarakat dapat membuat sebuah usaha secara permanen dengan bantuan
dari program pemerintah dan ini tidak berdampak pada kerugian. Kedua, minimnya pemahaman dari pihak
yang terkait karena dalam pembuatan program ditentukan secara nasional padahal
tanah air kita memiliki banyak pulau, suku dan kebudayaan yang pasti akan
berbeda-beda terhadap kelangsungan hidup masyarakatnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimanakah cara mengimplementasikan produk KERAITAR
(Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertingal?
2.
Bagaimanakah mengembangkan produk KERAITAR (Kerang Air
Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertingal ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan
masalah diatas dapat diketahui tujuan, sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui dan memahami cara penerapan KERAITAR
(Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertingal.
2.
Untuk mengetahui dan memahami bagaimana cara
mengembangkan KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam menanggulangi kemiskinan di
daerah tertingal
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut
:
1. Menanggulangi angka kemiskianan
di Indonesia.
2. Mengurangi angka penggangguran di
Indonesia.
3. Membuat lapangan pekerjaan bagi
masyarakat di daerah tertinggal.
4. Memperluas cakrawala ilmu
pengetahuan tentang kewirausahan.
E.
Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus dan tidak meluas, penulis
membatasi penelitian pada mengimplementasian produk KERAITAR (Kerang Air Tawar)
dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertinggat, serta mengembangkan
kewiarusahaan pada daerah tertinggal dengan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana
terjadi ketidak mampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan
, pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses
terhadap pendidikan dan pekerjaan. Sebagian orang memahami istilah ini secara
subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan
evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah
mapan. kemiskinan dapat juga dikatakan sebagai suatu standar tingkat hidup yang
rendah yaitu adanya tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang
dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang
bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung tampak
pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan kehidupan moral, dan rasa harga
diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.
Dalam kamus ilmiah populer, kata
“Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang ada tidak mencukupi
kebutuhan) atau bokek. Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat
miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat
dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula sejak masa neo-klasik di mana
kemiskinan hanya dilihat dari interaksi negatif (ketidak seimbangan) antara
pekerja dan upah yang diperoleh.
B. Kemiskinan di Indonesia
Kemiskinan adalah masalah ekonomi
yang pasti dialami oleh semua negara termasuk Indonesia sebagai negara dengan
kategori negara berkembang. Upaya sebuah negara berubah menjadi semakin maju
tidak berarti tidak meninggalkan masalah. Kemiskinan adalah sebuah masalah
sensitif karena melibatkan banyak sekali unsur di dalamnya, bahkan tidak hanya
masalah keuangan atau ekonomi, tetapi juga merembet ke permasalahan perbedaan
status sosial dan SARA sehingga kemiskinan adalah sebuah permasalahan yang
bersifat multi dimensional. Maksudnya
adalah kemiskinan memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin secara aset organisasi sosial
politik, pengetahuan dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin
akan relasi, sumber-sumber keuangan dan informasi. Dimensi-dimensi kemiskinan
tersebut dapat ditemui dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang sehat,
pelayanan kesehatan yang kurang memadai dan tingkat pendidikan yang rendah.
Selain itu, dimensi-dimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Fenomena kemiskinan sendiri
berkaitan erat dengan konsep dan permasalahan ketidak adilan dan disintegrasi
kelompok, menunjuk pada sebuah jalinan konsep yang memberi sebuah pengertian
yang saling berkait satu sama lain. Masing-masing konsep bisa dilihat secara
tunggal dengan pengertian tersendiri atau analisis saling keterkaitan atau
keterhubungan satu dengan lainnya dalam konteks kausalitas. Kemiskinan bisa
terjadi karena adanya ketidak adilan di masyarakat yang dapat mengganggu rasa
kebersamaan, atau karena perlakuan yang tidak adil dalam perlakuan/pemerataan,
ada masyarakat yang merasa miskin dalam berbagai hal yang berakibat pada
pertentangan dan perpecahan[1].
Secara umum Indonesia adalah negara
yang sedang berproses menuju negara industri yang maju. Hal ini ditandai dengan
sedikitnya efek yang diterima ketika terjadi krisis ekonomi global tahun 2008
kemarin, tepat di belakang negara-negara industri besar dunia seperti Cina dan
India. Namun bagaimanapun Indonesia tetaplah negara berkembang yang memiliki
permasalahan ekonomi termasuk kemiskinan. Indonesia memiliki ciri-ciri
sebagaimana karakter yang ada di negara-negara dunia ketiga lainnya. J. W.
Schrool (1981:232)[2]
menjelaskan bahwa ada 15 ciri-ciri negara berkembang, yaitu:
1. Tidak
cukup makan, dengan batasa kurang dari 2. 500 kalori
2. Struktur
agraria lemah karena pembagian tanah milik yang tidak baik, sehingga seorang
petani hanya memiliki tanah yang tidak begitu luas.
3. Industri
kurang berkembang, karena kecilnya persentase penduduk yang bekerja di sektor
industri.
4. Tidak
banyak menggunakan tenaga mesin dan masih menggunakan tenaga manusia atau
hewan.
5. Ketergantungan
ekonomi tinggi, khususnya pada bantuan luar negeri
6. Perkambangan
sektor perdagangan dan pelayanan terlalu maju, tidak seimbang dengan sektor
pertanian dan industri.
7. Struktur
sosial terbelakang dan belum sesuai dengan masyarakat modern
8. Kelas
menengah tidak begitu maju sehingga tidak ada yang memanikan peranan penting
dalam perkambangan perekonomian.
9. Pengangguran
terbuka dan pengangguran terselubung jumlahnya besar.
10. Tingkat
pengajaran rendah sehingga angka buta huruf masih tinggi.
11. Mutu
pengajaran juga rendah karena tidak ada perencanaan yang baik.
12. Angka
kelahiran tinggi.
13. Keadaan
kesehatan jelek, ditandai dengan angka kematian yang cukup tinggi sehingga
berpengaruh juga terhadap produksi.
Sejak pemerintahan zaman orde lama
hingga pasca reformasi, ada beberapa moment krusial tentang kemiskinan yang
terjadi di Indonesia. Seperti di zaman Orde Baru pimpinan Soeharto. Pasca
turunnya Soekarno dan diangkatnya Soeharto sebagai Presiden, beliau mencangkan
program-program pembentuk ekonomi rakyat dengan cita-cita membentuk Indonesia
sebagai negara dengan spesialisasi tertentu dan terwujud ide untuk melakukan
swasembada pangan (beras). Secara gasir besar, sumber-sumber program-program
pembangunan yang Soeharto buat adalah dari pinjaman-pinjaman luar negeri
seperti IMF dan Consultative Group on Indonesia, sebuah organisasi negara
kreditor untuk Indonesia yang di sponsori oleh Perancis. Selain itu, Indonesia
mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB
seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi
yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang
mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta
buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN)
pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional
terutama paska Krisis 1997. [3]
Tabel. Kemiskinan Di Indonesia
Tahun 1996-2000
Tahun
|
Jumlah Penduduk Miskin (Juta Orang)
|
Persentase Penduduk Miskin
|
||||
Kota
|
Desa
|
Kota+Desa
|
Kota
|
Desa
|
Kota+Desa
|
|
1996
|
7,20
|
15,30
|
22,50
|
9,70
|
12,30
|
11,30
|
1997
|
9,42
|
24,59
|
34,01
|
13,39
|
19,78
|
17,47
|
1998
|
17,60
|
31,90
|
49,50
|
21,92
|
25,72
|
24,20
|
1999
|
15,64
|
32,33
|
47,97
|
19,41
|
26,03
|
23,43
|
2000
|
12,31
|
26,43
|
38,74
|
14,60
|
22,38
|
19,14
|
Sumber
: Badan Pusat Statistik
Krisis ekonomi 1997/1998 telah
mengubur prestasi ekonomi Orde Baru. kemiskinan
melonjak tajam hingga mencapai 24,2% di tahun 1998. Hal ini sangat disayangkan
padahal sebelumnya perekonomian kita mendapat pujian sebagai salah satu
kejaiban ekonomi Asia(Sjahrir, 1997 ; Stamboel, 2012)[4].
Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998, semakin meluas menjadi krisis
politik yang justru menyebabkan semakin parahnya kondisi perekonomian
Indonesia. Demonstrasi mahasiswa merebak ke seluruh penjuru nusantara. Rupiah
yang sempat menguat Rp. 7. 000 per satu dollar AS, melemah kembali ke tingkat
Rp. 9. 000. Lebih-lebih setelah pemerintah memustuskan menaikan harga BBM.
Lepas dari krisis 1998, Indonesia
mulai menata kembali perekonomian. Pemerintah menyadari bahwa harus adanyas
ebuah jaminan sosial agar nantinya kemungkinan terjadinya krisis ekonomi
seperti kejadian 1998 tidak terulang. Sejak saat itu lahir Jaminan Pengaman
Sosial (JPS) yang melindungi masyarakat miskin dan rentan miskin dari guncangan
ekonomi. Sejak tahun 2000, konsep JPS mulai dikaji, dikembangkan dan sedikit
demi sedikit dijalankan. Di periode Kabinet Indonesia Bersatu I dan II, konsep
JPS iniberkembang baik. TNP2K yang bekerja langsung dibawah Wakil Presiden
langsung menanganinya. Program penanganan kemiskinan ini berevolusi menjadi
program empat kluster (bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan
UMKM dan program murah) yang merupakan program andalan pemerintah.
C. Faktor
Yang Mempengaruhi Kemiskinan di Indonesia
1.
Pendapatan Per Kapita Penduduk
Tingginya pertumbuhan pendapatan per kapita tidak akan
terlalu berdampak apabila tidak disertai dengan perbaikan dalam hal distribusi
pendapatan. Perubahan pendapatan per kapita mempunyai pengaruh yang negatif
terhadap kemiskinan. Peningkatan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi
yang telah dicapai oleh Indonesia hanya dinikmati oleh sebagian kecil penduduk.
Sementara sebagian besar penduduk yang saat ini hidup dalam kemiskinan tidak
menikmati capai tersebut. Dengan kata lain meskipun ekonomi tumbuh dengan baik,
tetapi mereka tetap berada dalam kemiskinan. Peningkatan kontra prestasi (gaji,
honor, upah, dan bentuk lain) yang selama ini terjadi di Indonesia hanya
dinikmati oleh sebagian orang. Peningkatan kontra prestasi tersebut tidak
sampai menyentuh pada kelompok yang berada pada garis kemiskinan.
2.
Rasio Ketergantungan Penduduk
Kemiskinan juga dipengaruhi oleh rasio ketergantungan
penduduk. Besarnya penduduk yang beraktifitas sebagai ibu rumah tangga,
menganggur, dan sedang sekolah akan semakin memperbesar rasio ketergantungan
penduduk. Tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengurangan
faktor penyebab kemiskinan. Artinya jikalau nantinya penduduk yang saat ini
sedang sekolah (SMP/SMA/Diploma/Sarjana) telah lulus, maka kehadira mereka
tidak akan membantu mengurangi faktor penyebab kemiskinan. Tetapi kehadiran
mereka justru akan menambah besar nilai rasio ketergantungan. Dengan kata lain
kemungkinan mereka untuk menjadi pengangguran lebih besar karena sistem
pendidikan yang tidak memiliki link and match dan miskin praktek/ keterampilan.
Meningkatnya rasio ketergantungan akan meningkatkan
proporsi populasi yang hidup dalam kemiskinan. Angka kelahiran yang tinggi
berimplikasi pada tingginya rasio ketergantungan. Negara-negara berkembang di
Asia yang sukses mengurangi angka kelahiran, maka rasio ketergantungannya
relatif rendah. Kemiskinan akan meningkat seiring dengan meningkatnya rasio
ketergantungan.
Faktor penyebab munculnya rasio ketergantungan adalah
adanya tingkat kelahiran yang tinggi. Penyebab kemiskinan adalah adanya ledakan
penduduk yang tidak terkendali karena ledakan penduduk akan menimbulkan pola
hidup yang serba pas-pasan. Masyarakat miskin tidak akan pernah berhasil
mencapai taraf hidup yang lebih tinggi dari tingkat subsiten, kecuali apabila
mereka mengadakan pemeriksaan pengendalian preventif terhadap pertumbuhan
populasi mereka, atau dengan menerapkan pengendalian kelahiran. Apabila setiap
keluarga memiliki tiga orang anak yang berarti dalam satu keluarga akan terdiri
dari lima jiwa. Semakin besar jumlah anak maka semakin besar jumlah tanggungan
yang harus di tanggung oleh kepala keluarga. Selanjutnya semakin besar jumlah
penduduk yang berusia tidak produktif makan semakin besar tanggungan yang harus
di tanggung oleh penduduk usia produktif.
3.
Pertumbuhan Ekonomi
Tidak ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan
tingkat kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mampu mengurangi munculnya
kemiskinan. Karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi justru hanya memicu
munculnya kesenjangan pendapatan dan in-equality. Pertumbuhan ekonomi tidak
berpengaruh terhadap upaya menaikkan pendapatan penduduk miskin serta
pertumbuhan ekonomi tidak bisa mengurangi ketimpangan pendapatan antara orang
kaya dan orang miskin. Tingginya pertumbuhan pendapatan per kapita tidak akan
terlalu berdampak apabila tidak disertai dengan perbaikan dalam hal distribusi
pendapatan. Perubahan pendapatan per kapita mempunyai pengaruh yang negatif
terhadap kemiskinan dan semakin besar ketimpangan distribusi pendapatan (gini
ratio) maka semakin besar tingkat kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang selama ini dicapai
oleh Indonesia ternyata tidak mampu mengurangi faktor penyebab kemiskinan.
Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil
orang di Indonesia. Efeknya akan memunculkan kemiskinan struktural dimana
pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang
kaya, sementara bagian terbesar masyarakat yang tetap miskin.
Pengurangan kemiskinan di suatu negara dan di waktu
tertentu ditentukan secara penuh oleh tingkat pertumbuhan ekonomi dan perubahan
distribusi pendapatan. Hubungan ini sesuai dengan teori “tricle down effect”
dimana bila ekonomi tumbuh, maka secara otomatis akan terjadi pemerataan
hasil-hasil pembangunan atau perembesan ke bawah sehingga hasil-hasil
pembangungan dapat dinikmati oleh kelompok miskin. Dengan demikian kaum miskin
dapat keluar dari kemiskinannya.
4.
Persentase Tenaga Kerja Di sektor Pertanian
Kemiskinan di pedesaan di Indonesia dapat berkurang dengan
meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Sehingga pembangunan pedesaan dan
pertanian, dimana ada kenaikan produktivitas per hektar atau pada rumah tangga,
seharusnya diprioritaskan untuk bagian pulau di luar Jawa dan Bali dimana
tingkat kemiskinannya yang tinggi. Persentase tenaga kerja di sektor pertanian
tidak mampu mengurangi faktor penyebab kemiskinan karena sektor pertanian dan
mempunyai tingkat pendidikan SD kebawah. Oleh karena itu program pengentasan
kemiskinan di sektor pertanian perlu diprioritaskan. Pembangunan sektor
pertanian melalui perbaikan lahan pertanian, perikanan, dan kehutanan serta
pembangunan masyarakat pedesaan perlu menjadi pijakan untuk membawa masyarakat
Indonesia keluar dari permasalahan kemiskinan.
5.
Pengaruh Penghasilan Terhadap Kemiskinan
Menurut Sumardi (1983 : 65), penghasilan adalah uang yang
diterima dan diberikan kepada subyek ekonomi berdasarkan prestasinya yang
diserahkan yaitu berupa pendapatan dari pekerjaan yang telah dilakukannya,
pendapatan dari profesi yang dilakukan sendiri atau usaha perorangan dan
pendapatan dari kekayaan serta dari sektor subsistem.
Penghasilan merupakan pendapatan yang berbentuk uang.
Seseorang yang memiliki penghasilan rendah maka akan mengalami kesulitan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya seperti, kebutuhan pangan, papan, maupun sandang.
Seseorang yang memiliki pendapatan yang tinggi dapat menyisakan hasil
pendapatannya untuk memutar kembali uang yang telah diperoleh agar dapat
menghasilkan tambahan pendapatan. Sedangkan seseorang yang memiliki pendapatan
rendah tidak dapat menyisakan ataupun memutar kembali uang yang diperoleh,
karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sangat kesulitan.
Seseorang orang yang pekerjaan jauh lebih ringan dan santai
justru mendapatkan pendapatan yang tinggi karena lebih memiliki tanggung jawab
yang besar. Berbeda dengan seseorang yang pekerjaannya jauh lebih berat malah
mendapatkan penghasilan yang rendah, padahal sudah mengeluarkan tenaga yang
cukup besar.
Menurut Djojohadikusumo (1989 : 20), pendapatan per kapita
menunjukan tingkat hidup masyarakat dalam suatu wilayah. Dengan meningkatnya
pendapatan per kapita masyarakat, maka kesejahteraan masyarakat dalam suatu
wilayah tersebut juga akan meningkat. Oleh karena itu pendapatan per kapita
suatu wilayah sering kali menjadi tolak ukur dari ketidak berhasilan suatu
daerah untuk menciptakan pembangunan yang pesat.
D. Perkembangan Kewirausahaan di Indonesia
Disaat perekonomian dunia mengalami kemunduran, seperti di Amerika dan
Eropa yang mengalami krisis ekonomi. Dunia mulai melihat pada negara-negara
yang memiliki potensi pasar, daya jual-beli yang kuat dan menunjukan
perkembangan ekonomi yang pesat. Negara-negara ini memiliki potensi ekonomi
yang besar di masa depan, mereka memiliki sumber daya alam dan sumber daya
manusia sebagai kekuatan daya beli dan tenaga kerja yang murah dan terampil.
Negara-negara tersebut adalah negara-negara dengan perekonomiannya tumbuh pesat
seperti singapura, jepang, korea, jerman.
Pada saat seperti itu bagaimana dengan indonesia?
indonesia masih tertinggal jauh dalam masalah perekonomian itu disebabkan
karena rendahnya pertumbuhan ekonomi, banyaknya jumlah pengangguran, kemiskinan
yang menjamur, kesenjangan penghasilan dan masih banyak lagi.
Negara
maju seperti jepang hampir sebagian penduduk disana mempunyai impian untuk
menjadi entrepreneur atau pengusaha faktor itulah yang menyebabkan majunya
perekonomian disana. Di Indonesia hanya sekitar 570.339 orang atau 0,24% dari
jumlah penduduk yang berjumlah 270 juta jiwa yang menjadi entrepreneur, padahal
untuk menjadikan perekonomian di negara itu maju membutuhkan sekitar minimal 2%
dari jumlah penduduk. lalu, minat masyarakat untuk menjadi wirausaha juga masih
rendah. Untuk lulusan Perguruan Tinggi, yang berminat menjadi wirausaha hanya
6,4 persen, sementara untuk tingkat SLTA jumlahnya hanya 22,4 persen.Padahal,
potensi pemuda kita (untuk bisa menjadi wirausaha) saat ini relatif besar,
dimana tingkat kelulusan Strata I mencapai 300 ribu orang dan SLTA mencapai 2,5
juta orang per tahun. Apalagi, per tanggal 31 Desember 2015 mendatang, kita
akan memasuki era perdagangan bebas Menurut
David McClelland, untuk menjadi negara yang makmur, suatu negara harus memiliki
minimum dua persen entrepreneur dari total penduduknya. Jadi, di Indonesia,
mestinya minimal ada 4,75 juta wirausaha.
Dengan adanya kewirausahaan
masyarakat dapat mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan menyediakan
produk yang bernilai tambah atau inovasi-inovasi yang baru sehingga dapat
menjadikan masyarakat lebih kreatif dalam menyampaikan ide-ide dan kreasinya,
mereka bisa menciptakan barang yang dirasa perlu dan penting untuk
kesejahteraan masyarakat itu sendiri sehingga tidak perlu menimpor dari luar
negeri. Selain itu masyarakat tidak tergantung dengan pemerintah seperti tenaga
kerja negri (PNS) yang masih di gaji oleh pemerintah, bahkan seorang wirausaha
akan mendatangkan omset yang akan di berikan ke negara melalui pajak. Secara
tidak langsung kesejahteraan ekonomi masyarakat bisa stabil.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Implementasi Produk
KERAITAR (Kerang Air Tawar)
Dalam rangka menanggulangi
kemiskinan yang berada di daerah-daerah tertinggal banyak Sumber Daya Alam yang dapat di manfaatkan. Salah satunya
kerang atau kijing, kerang merupakan hewan avertebrata
bercangkang yang dapat hidup pada dasar atau menempel pada substrat di dalam
suatu perairan. Kerang pada umumnya sangat mudah untuk didapatkan
karena kerang air tawar hidup di sungai. Kerang air tawar yang sebelumnya tidak
bernilai ini mampu meningkatkan sektor dalam bidang kewirausahan di daerah
daerah yang tertinggal maupun daerah terpencil.
Daerah yang masyarakatnya belum
memiliki penghasilan ataupun pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhannya bisa
memngembangkan kerang sebagai produk untuk membuat makanan dan kerajinan. Kerang air
tawar memiliki banyak kegunaan mulai dari daging sampai cangkangnya. Untuk saat
ini cangkangnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan. Daging kerang air
tawar dapat digunakan sebagai makanan yang dikonsumsi setelah melalui proses
pemasakan. Hasil olahan dari makanan yang berbahan dasar
kerang tersebut bisa berupa kerang krispi,kerang bakar.
Namun, disini masyarakat mampu
mengembangkan kreatifitasnya dalam mengelola kerang sebagai produk makan yang
belum pernah dipasarkan. Salah satunya membuat kerang air tawar itu sebagai
produk makanan nungget yang berbahan dasar kerang air tawar.produk yang
sebleumnya belum pernah dipasarkan itu akan meningkatkan penghasilan dalam
bidang kewirausahan bagi masyarakat yang berada didaerah tertinggal serat mampu
menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat-masrakat yang belum memiliki
pekerjaan tetap. Untuk pengelolaan produk KERAITAR ini masyarakatan
melakukannya dengan cara bergotong royong membangun rumah industri.
Dalam proses pemasaran
masayarakat bisa memasarakan produk terserbut dengan menjual produk KERAITAR di
toko-toko ataupun membuat outlet-outlet di setiap daerah. Dan untuk kerajinan
kerang air tawar masyarakat mampu membuat kerajian yang kreatif dan bernilai
seni dengan bahan utamanya yaitu cangkang kerang air tawar.
Masyarakat yang memiliki
kreatifitas yang tinggi mampu mengurangi penggangguran yang berada di
daerah-daerah tertinggal. Karena pada dasarnya semakin banyak sektor atau lahan
untuk lapangan pekerjaan semakin besar pula peluang masyarakat unutk meningkat
penghasilan dalam menanggulangi kemiskinan di daerah tertinggal.
B. Langkah-Langkang Membuat Produk KERAITAR (Kerang Air
Tawar)
Untuk mengelolah dan memproduksi Nugget KERAITAR (Kerang
Air Tawar) dan kerajinan ynag bernilai seni berikut ini alat, bahan dan cara
pembuatannya:
1.
Nungget KERAITAR
(Kerang Air Tawar)
a.
Alat
Parutan, saringan, wajan,
pisau, spatula, cetakan, sarung tangan plastik, baskom, panci, pemanggang,
piring.
b.
Bahan
Kerang air tawar, tepung terigu
& tepung roti, telur, garam, gula pasir, bawang putih, bawang merah, kemiri,
masako, minyak goreng, kotak pembungkus, ABC saus tomat, ladaku.
c.
Cara Pembuatan
Mempersiapkan alat dan bahan.
Campurkan semua bahan diatas, kerang garam, merica, bawang putih, bawang merah, kemiri, masako, telur kemudian aduk hingga rata.
Masukkan adonan ke dalam cetakan atau loyang yang
telah diolesi mentega cair terlebih dahulu, lalu kukus adonan selama setengah
jam. Potong-potong dan bantuk sesuai selera, setelah itu lumuri atau lapisi
dengan telur, lalu tepung roti. Kukus nungget, angkat dan tiriskan. Nugget
kerang siap untuk dihidangkan.
2.
Kerajinan KERAITAR (Kerang Air Tawar)
a.
Alat dan bahan
Gergaji, kayu triplek, kaca,
amplas, lem kaca, cat, kuas, kawat, kulit kerang air tawar
b.
Cara Pembuatan
Mempersiapkan alat-alat.
Membuat pola di kertas. Semua pola ditempel pada kayu triplek. Di potong sesuai
dengan pola yang telah dibuat. Menempelkan kulit kerang air tawar ke pola
dengan cara di lem. Mewarnai sesuai desain. Setelah kering kemudian di bingkai.
Pemasangan kawat di belakang sebagai pengait.
C.
Kelebihan Produk KERAITAR (Kerang Air Tawar)
Dalam
pengelolahan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar) dalam rangka menanggulangi
kemiskinan yang berada di adaerah tertinggal banyak keuntungak atau kelebihan
yang terdapat pada produk yang di kelolah tesebut, antara lain sebagai berikut:
1)
Membuat produk yang unik.
2)
Mengelolah makanan dengan bahan yang langka di gunakan
pada umunya.
3)
Meproduksi makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi.
4)
Membuat kerajinan
yang memiliki nilai estetika.
5)
Dapat dikonsumsi
oleh berbagai kalangan.
D. Kelemahan Produk KERAITAR (Kerang Air Tawar)
Dalam pengelolahan terdapat kelemahan
dari produk ini adalah bahan dasar dari produk ini tidak bisa didapatkan di
semua daerah, hanya daerah-daerah tertentu yang memiliki sungai air tawar
dimana terdapat komunitas kerang didalammya.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dalam menanggulangi kemiskinan
yang terjadi di Indonesia khususnya pada daerah-daerah tertinggal. Masyarakat
mampu memanfaatkan Sumber Daya Alam yang melimpah di daerah sekitar. Dengan
cara mengelolah atau memproduksi bahan pangan dan kerajinan yang belum pernah
atau belum ada yang memproduksinya. Salah satunya dengan memanfaatkan hasil
alam seperti KERAITAR (Kerang Air Tawar). Kerang yang dijadikan sebagai bahan
utama dalam pembuatan nungget dan cangkangnya dibuat kerajian yang memiliki
nilai jual tinggi. Dengan kretifitas yang dimiliki oleh seseorang mampu
meningkatkan penghasil dan mampu mengurangi angka penggangguran di Indonesia
dengan menciptakan lapangan pekerjaan di bidang kewirausahaan.
B.
SARAN
Dalam rangka mengurangi
presentase angka kemiskinan di Indonesia diharpakan masyarakat mampu
mengembangkan kreatitasnya dalam bidang kewirausahaan. Masyarakat juga harus
mampu mengembangkan produk KERAITAR (Kerang Air Tawar) agar produk pangan dan
kerajinan tersebut mampu menjadi produk yang populer didaerah-daerah lainnya. Agar
tercapainya keinginan bangsa Indonesia untuk mensejahterakan rakyatnya,
diharapkan masyarakat dan lembaga-lembaga pemerintahan mampu bekerjasama dengan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Mankiw,
Gregory. (2006). Makroekonomi Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Suparlan,
Parsudi. (1993). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta
Suharto,
E. (2008). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama
https://www.academia.edu/881929/FAKTOR_KEMISKINAN_DAN_UPAYA_PENANGGULANGAN_PEMERINTAH_INDONESIA_MAKALAH_Diajukan_Untuk_Memenuhi_Tugas_Mata_Kuliah_Perekonomian_Indonesia_Dosen_Pembimbing


Tidak ada komentar:
Posting Komentar